Syaikh Abdul Muhsin Al-Badr -hafizhahullah- berkata :
Allah Ta’ala berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa dan janganlah engkau mencari-cari kesalahan orang lain. [Al-Hujurat : 12]
Dalam ayat yangmulia ini terkandung perintah untuk menjauhi banyak prasangka, karena sebagian tindakan prasangka merupakan perbuatan dosa. Dalam ayat ini juga terkandung larangan berbuat tajassus. Tajassus ialah mencari-cari / memata-matai kesalahan-kesalahan atau kejelekan-kejelekan orang lain, yang biasanya hal ini dilakukan dari dampak prasangka buruk.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إيَّاكم والظنَّ؛ فإنَّ الظنَّ أكذبُ الحديث، ولا تحسَّسوا، ولا تجسَّسوا، ولا تحاسدوا، ولا تباغضوا، ولا تدابروا، وكونوا عبادَ الله إخواناً
Artinya : Berhati-hatilah kalian dari prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling tajajus yaitu mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Tapi jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.
Amirul Mukminin Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu berkata :
Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka yang baik
Imam Ibnu Katsir -rahimahullah- menyebutkan perkataan Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu di atas ketika beliau menafsirkan sebuah ayat dalam surat Al-Hujurat.
Imam Bakar bin Abdullah Al-Muzani sebagaimana biografi beliau bisa kita dapatkan dalam kitab Tahdzib At-Tahdzib berkata :
Berhati-hatilah kalian terhadap perkataan yang sekalipun benar kalian tidak diberi pahala, namun apabila kalian salah kalian berdosa. Perkataan tersebut adalah berprasangka buruk terhadap saudaramu.
قال تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا}
ففي هذه الآية الكريمة الأمر باجتناب كثير من الظنِّ، وأنَّ منه إثماً، والنهي عن التجسُّس، والتجسُّسُ هو التنقيب عن عيوب الناس، وهو إنَّما يحصل تَبَعاً لإساءة الظنِّ.
وقال صلى الله عليه وسلم: “إيَّاكم والظنَّ؛ فإنَّ الظنَّ أكذبُ الحديث، ولا تحسَّسوا، ولا تجسَّسوا، ولا تحاسدوا، ولا تباغضوا، ولا تدابروا، وكونوا عبادَ الله إخواناً” رواه البخاري (٦٠٦٤) ، ومسلم (٢٥٦٣) .
وقال أمير المؤمنين عمر بن الخطاب رضي الله عنه: “ولا تظنَّنَّ بكلمة خرجت من أخيك المؤمن إلاَّ خيراً، وأنت تجد لها في الخير مَحملاً” ذكره ابن كثير في تفسير آية سورة الحجرات.
وقال بكر بن عبد الله المزني كما في ترجمته من تهذيب التهذيب: “إيَّاك من الكلام ما إن أصبتَ فيه لَم تُؤجَر، وإن أخطأت فيه أثمت، وهو سوء الظنِّ بأخيك” .
رفقاً أهلَ السنَّة بأهلِ السنَّة
إعداد: عبد المحسن بن حمد العباد البدر
✍🏻Penerjemah : Abu Iqbal غفر الله له
Ma’had Ta’zhim As-Sunnah